Sejarah Berdirinya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan
Sejarah berdirinya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan tidak terlepas dari sejarah kepanduan di Indonesia yang dibawa oleh penjajah Belanda hasil adaptasi dari gerakan kepanduan yang diprakarsai oleh Lord Robert Baden Powell seorang prajurit berkebangsaan Inggris dan dihormati sebagai Bapak Kepanduan sedunia.
Sifat gerakan kepanduan di Indonesia yang merupakan tanah jajahan tidaklah sama dengan kepanduan yang dibawa oleh Belanda atau Nederlandsh Indische Padvinders Vereeneging (NIPV); kepanduan di Indonesia saat itu menyimpan pengaruh pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1916 K. H. Ahmad Dahlan mengikuti pengajian SAFT (Sidiq, Amanah, Fathonah, Tabligh) di Surakarta yang diadakan secara rutin di rumah K. H. Imam Mukhtar Bukhari. Di kota ini Kyai Dahlan melihat anak-anak JPO (Javansche Padvinders Organisatie) dengan pakaian seragam, latihan baris berbaris di halaman Mangkunegaran. JPO sendiri merupakan perhimpunan kepanduan yang pertama (didirikan tahun 1916) sebagai tempat latihan dan pembibitan ketentaraan Mangkunegaran.
Sesampainya di Jogja, Kyai Dahlan menceritakan apa yang dilihatnya di Surakarta kepada beberapa muridnya antara lain Sumodirjo dan Sarbini serta berharap dapat mengumpulkan pemuda dan remaja untuk dilatih kepanduan. Mulailah Sumodirjo dan Sarbini merintis berdirinya Kepanduan di Muhammadiyah dengan latihan baris berbaris dan pertolongan pertama pada kecelakaan setiap ahad sore di sekitaran kauman. Inilah cikal bakal berdirinya Kepanduan di Muhammadiyah dengan nama Padvinder Muhammadiyah pada tahun 1918 yang diketuai oleh H. Mukhtar Bukhari.
Sepulang kunjungan Padvinder Muhammadiyah ke JPO di Surakarta, K. H. Raden Hadjid mengajukan nama yang dianggap cocok untuk Padvinder Muhammadiyah pada saat itu (juga untuk menggantikan kata Padvinder) dengan nama Hizbul Wathan yang berarti "Pembela Tanah Air". Hizbul Wathan sendiri berasal dari nama kesatuan tentara Mesir yang sedang berperang membela tanah airnya dan dengan kata sepakat nama HIZBUL WATHAN dipakai menggantikan nama "Padvinder Muhammadiyah" pada tahun 1920.
Setelah tahun 1924 Hizbul Wathan berkembang di Jawa, bahkan telah dapat melebarkan sayapnya hingga ke luar Jawa. Cabang-Cabang baru Hizbul Wathan kian banyak berdiri. Cabang pertama yang berdiri di luar Jawa ialah di Sumatera Barat, yang dibawa oleh wakil-wakil yang menghadiri kongres Muhammadiyah ke-17 di Yogyakarta pada tahun 1928. Bahkan pada tahun-tahun tersebut telah dapat dilaksanakan "Djamboree Hizboel Wathan" di Martapura Daerah Borneo Selatan (Kalimantan Selatan saat ini).
Di tahun ini juga timbul banyak sekali kepanduan-kepanduan, misalnya PKI di semarang, membentuk kepanduan beranggotakan murid-murid dari sekolah-sekolah rakyat, Sarikat Islam dengan SIAP (Serikat Islam Afdeling Pandu), Budi Utomo membentuk National Padvinderij, Jong Java dengan Pandu Kebangsaan, Jong Islamiten Bond dengan Napity (Nationale Islamitische Padvinderij), Taman Siswa mendirikan Siswa Proyo dan lain sebagainya. Organisasi Kepanduan (Pemuda dan Pelajar) inilah yang akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dengan munculnya kata Pandu dalam lagu Indonesia Raya (lagu kebangsaan Indonesia).
DIBEKUKAN
Pesatnya kemajuan Hizbul Wathan saat itu yang menurut jumlah anggotanya Hizbul Wathan menduduki tempat teratas disusul oleh Pandu Anshor, Pandu Rakyat Indonesia, KBI, Pandu Islam Indonesia dan sebagainya, mendapatkan perhatian khusus dari NIPV (Kepanduan Hindia Belanda) dan menginginkan Hizbul Wathan bergabung dengan NIPV. Hizbul Wathan menolak ajakan NIPV untuk bergabung karena NIPV merupakan alat dari penjajah Belanda dan karena penolakan ini, maka Hizbul Wathan dan Gerakan Kepanduan lainnya yang menolak untuk bergabungpun dibekukan segala kegiatannya.
DILARANG
Pada permulaan penjajahan Jepang di Indonesia tahun 1942, beberapa gerakan kepanduan termasuk Hizbul Wathan mulai nampak berkegiatan. Bahkan Hizbul Wathan ikut pawai yang diadakan oleh Jepang dalam rangka merayakan Ulang Tahun Tenno Heika (Kaisar Jepang). Namun tidak lama kemudian secara terang-terangan Jepang melarang berdirinya organisasi-organisasi kepanduan termasuk Hizbul Wathan.
Meskipun demikian, para anggota Hizbul Wathan tetap berkiprah dalam organisasi-organisasi yang didirikan oleh Jepang seperti Keibondan, Seinendan, PETA dan sebagainya. Dari Hizbul Wathan inilah muncul sederet tokoh bangsa seperti Jenderal Sudirman, K.H. Dimyati, Surono, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Muzakkir, Kasman Singodimedjo, Adam Malik, Suharto dan lain-lain.
KEBANGKITAN PERTAMA
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945 timbullah keinginan untuk membangkitkan kembali organisasi kepanduan di Indonesia. Dan pada Desember 1945 diadakanlah kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia yang dihadiri oleh 300an orang termasuk dari Hizbul Wathan dengan suara bulat memutuskan untuk membentuk Pandu Rakyat Indonesia. Pandu Rakyat Indonesia yang merupakan kumpulan kepanduan-kepanduan di Indonesia termasuk Hizbul Wathan pada akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan kepada pemimpin-pemimpin pandu untuk menghidupkan kembali organisasi kepanduannya masing-masing dalam Kongres Pandu Rakya Indonesia Kedua di Yogyakarta tanggal 20 - 22 Januari 1950.
Pada hari Ahad tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan anggresi militer ke-2 dan menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta serta menangkap Presiden dan Wakil Presiden beserta beberapa pemimpin Indonesia lainnya. Peperangan mempertahankan kemerdekaan RI dilakukan kembali oleh para anggota kepanduan dibawah pimpinan Jenderal Sudirman yang seorang anggota Hizbul Wathan. Meskipun dalam keadaan sakit beliau pantang menyerah memimpin perang gerilya melawan pasukan Belanda.
Pada tanggal 29 Juni 1948 akhirnya Belanda meninggalkan Yogyakarta dan tentara RI kembali memasuki Yogyakarta yang dikenal dengan "Yogya Kembali".Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih dalam kondisi sakit dirawat di RS Magelang dan dijenguk oleh beberapa perwakilan Pimpinan Muhammadiyah.
Pada saat itu Jenderal Sudirman mengamanatkan kepada Mawardi selaku wakil Muhammadiyah untuk membangkitkan kembali Hizbul Wathan "Hizbul Wathan itu merupakan tempat yang baik untuk mendidik anak-anak Muhammadiyah agar kelak menjadi seorang pejuang yang cinta tanah air sekaligus taat pada agama. Oleh karena itu saya anjurkan pada warga Muhammadiyah agar jangan ragu-ragu lagi untuk mendidik putra-putrinya melalui Kepanduan Hizbul Wathan".
Pada tanggal 29 Januari 1950 untuk melaksanakan amanat Panglima Besar Jenderal Sudirman secara simbolis Hizbul Wathan mengadakan apel yang dipimpin oleh Haiban Hadjid untuk meresmikan kebangkitan kembali Kepanduan Hizbul Wathan, namun pada malam harinya Jenderal Sudirman yang seorang Pandu Hizbul Wathan itu wafat. Oleh karenanya, pada waktu itu ada semboyan "HW BANGKIT UNTUK MELANJUTKAN KEPEMIMPINAN JENDERAL SUDIRMAN". Sejak saatlah itu Hizbul Wathan mulai merata kembali anggota-anggotanya dan berkembang pesat ke seluruh tanah air dimana Muhammadiyah ada.
DILEBURKAN
Pada hari Kamis tanggal 9 Maret 1961 para pemimpin pandu yang mewakili lebih dari 60an Gerakan Kepanduan di seluruh Indonesia hadir di Istana Merdeka Jakarta, atas panggilan Presiden Soekarno selaku Penguasa Perang Tertinggi. Pada pukul 20.00 WIB Bung Karno menyampaikan Pidatonya - melarang semua Gerakan Kepanduan dan meleburnya ke dalam PRAMUKA.
Dan pada tanggal 20 Mei 1961 dikeluarkanlah KEPRES No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada diktum ketiganya berbunyi : "Badan-badan lain yang sama, yang sama sifatnya atau yang menyerupai perkumpulan GERAKAN PRAMUKA dilarang adanya". Tidak ada yang berani membantah karena sebelumnya sudah diumumkan Negara dalam keadaan darurat perang.
K. H. Muh. Mawardi menjadi Ketua Hizbul Wathan terakhir ditingkat pusat dan pada tanggal 30 Juli 1961 menjadi bukti bahwa UU HW nomor 7 "Pandu HW itu melaksanakan perintah tanpa membantah" bukan sekedar embel-embel belaka, bersama 70an lebih Pimpinan Perkumpulan Kepanduan se Indonesia, Muh. Mawardi dari Kepanduan Hizbul Wathan menyerahkan hasduk/kacu dan panji yang selama ini begitu mereka cintai di Istora Senayan demi mematuhi amanat Presiden Sukarno dengan rasa pedih namun dibalut rasa patriotisme dan kebesaran jiwa seorang pandu.
Sejak saat itu Hizbul Wathan dan Gerakan Kepanduan lainnya dilebur menjadi Gerakan Pramuka. Pasca peleburan tersebut, banyak diantara mantan Pandu-Pandu HW yang enggan untuk bergabung dalam Gerakan Pramuka sebagiannya bergabung ke Organisasi Otonom Muhammadiyah seperti Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah serta membentuk Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PS-HW).
Namun sebagian lagi tetap berkiprah di Gerakan Pramuka hingga melahirkan rumusan Dasa Darma Pramuka yang pertama (tahun 1961 hingga 1966) yang bunyinya mirip dengan Undang-Undang Pandu HW saat ini. (https://pramukadiy.or.id/simak-kembali-sejarah-dasa-darma-pramuka/)
KEBANGKITAN KEMBALI
Seiring perjalanan waktu, musim berganti musim dan zaman pun berubah. Dari rezim Orde Lama berpindah ke Orde Baru. Kekuasaanpun berpindah-pindah dari Pak Harto ke tangan B.J. Habibie, lalu berpindah ke tangan K. H. Abdurrahman Wahid terus berpindah lagi ke tangan Megawati Soekarno Putri dimasa Reformasi (tahun 1998) berpindah lagi ke tangan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.
Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya badan penyelenggara kegiatan kepanduan juga menjadi kegiatan kepanduan di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Namun kegiatan kepanduan ini tidak dapat menjadi wadah pembinaan kader Muhammadiyah di lembaga pendidikan tersebut dikarenakan dalam praktiknya kegiatan Pramuka tidak seperti yang diharapkan sebagai satu kepanduan yang Islami. Asas sukarela dalam kepanduan telah berubah menjadi instruktif khususnya yang berbasis sekolah. Dan Gerakan Kepanduan ini telah menjelma menjadi badan milik pemerintah, dibiayai oleh pemerintah dan mengikuti semua program pemerintah serta rentan terjebak dalam perpolitikan para penguasa.
Semangat kebangkitan Hizbul Wathan muncul sejak Muktamar Ke-40 Muhammadiyah di Surabaya tahun 1980, kemudian di Muktamar Ke-41 di Surakarta tahun 1985, hingga terlaksananya pawai alegoris Pandu Hizbul Wathan di Muktamar Ke-42 Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 1990 dan bergaung pula ketika perhelatan Muktamar Ke-43 di Aceh tahun 1995.
Pada tanggal 21 s.d. 23 Maret 1996 dilaksanakan Reuni Nasional Pandu Hizbul Wathan yang dihadiri oleh para Pandu HW Wreda dan mantan Pandu Nasyi'ah. Dengan kegiatan ini dan disertai berbagai pertemuan lanjutan maka persiapan secara formalpun dilakukan hingga Proposal Kebangkitan Kembali Kepanduan Hizbul Wathan disampaikan dan dibicarakan dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Semarang tahun 1998 dan saat Lokakarya Nasional tahun 1999 di UAD, hingga di deklarasikan pada tanggal 18 November 1999 di Yogyakarta bertepatan dengan Milad Muhammadiyah Ke-87 melalui Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 tanggal 10 Sya'ban 1420 H. / 18 November 1999 M.Dan hingga saat ini Hizbul Wathan telah berdiri diseluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua dan telah melaksanakan 4 kali Muktamar dengan urutan sebagai berikut :
- Muktamar Ke-1 dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 29 s.d. 31 Desember 2005 dengan ketua umum terpilih Ramanda Hilman Najib.
- Muktamar Ke-2 dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 13 s.d. 16 Januari 2011 dengan ketua umum terpilih Ramanda Uun Harun Syamsuddin.
- Muktamar Ke-3 dilaksanakan di Solo pada tanggal 13 s.d. 16 Juli 2016 dengan ketua umum terpilih Ramanda Muchdi Purwoprandjono.
- Muktamar Ke-4 dilaksanakan di Malang pada tanggal 26 s.d. 29 Juli 2023 dengan ketua umum terpilih Ramanda Aman Suryadi
Perjalanan panjang dari didirikannya oleh pendiri Muhammadiyah - K. H. Ahmad Dahlan, dibekukan di zaman Belanda karena tidak sepaham dengan kepanduan Belanda, dibangkitkan kembali oleh rasa nasionalisme dan patriotisme kebangsaan, dilarang berdiri di zaman penjajahan Jepang, dileburkan dalam Gerakan Pramuka tentulah tidak mudah bagi Hizbul Wathan untuk melupakan untuk apa keberadaannya saat ini yaitu sebagai wadah pembinaan kader-kader muda Muhammadiyah penerus estapet kepemimpinan bangsa, agama dan negara kesatuan Republik Indonesia tercinta.
Referensi :
- https://hizbulwathan.or.id/kebangkitan-hw-dan-sejarah-kepanduan-di-indonesia/
- https://web.suaramuhammadiyah.id/2020/07/05/mengulas-peran-para-direktur-madrasah-muallimin-bagi-hizbul-wathan/
- https://smampabelik.sch.id/read/31/sejarah-singkat-pandu-hizbul-wathan
- https://tabloidmatahati.com/tiga-periode-sejarah-hizbul-wathan-malang-pelarangan-kebangkitan/
Posting Komentar untuk "Sejarah Berdirinya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan"
Posting Komentar