UTUSAN KWARWIL GKHW KALIMANTAN SELATAN SAMPAIKAN SEJUMLAH MASUKAN STRATEGIS DALAM RAPAT KOMISI TANWIR I GKHW 2026

Metro, Lampung — Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam rangkaian kegiatan Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (GKHW) Tahun 2026 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, utusan Kwartir Wilayah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kalimantan Selatan menyampaikan sejumlah masukan strategis untuk mendorong kemajuan organisasi, memperkuat sistem kaderisasi, serta meningkatkan kualitas program dan tata kelola GKHW di tingkat nasional.

Masukan tersebut disampaikan dalam rapat komisi yang membahas tiga bidang penting, yaitu organisasi, program, dan kaderisasi. Ketiga bidang ini dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan arah pengembangan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan agar semakin maju, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan generasi muda serta tantangan zaman.

Foto kegiatan 1 Foto kegiatan 2 Foto kegiatan 3 Foto kegiatan 4
Gambar ukuran penuh

Ramanda Bahrudin AR, SE., MM., CHt., yang mengikuti Komisi III Bidang Kaderisasi, menyampaikan pandangan mengenai pentingnya membangun sistem kaderisasi dewasa yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan di lingkungan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Dalam masukannya, Bahrudin menegaskan bahwa kaderisasi tidak boleh hanya dipahami sebagai kegiatan pelatihan atau pemenuhan persyaratan administratif semata. Lebih dari itu, kaderisasi merupakan proses pembentukan manusia yang memiliki integritas, berakhlak Islami, memahami ideologi Muhammadiyah, menguasai kompetensi kepanduan, serta mampu menjalankan amanah pendidikan dan kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab.

Menurutnya, kaderisasi harus menjadi investasi strategis organisasi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu melanjutkan estafet kepemimpinan Hizbul Wathan pada masa mendatang.

Oleh karena itu, ia mendorong Kwartir Pusat GKHW untuk menyusun sistem kaderisasi yang terencana, berjenjang, berkelanjutan, dan terukur. Sistem tersebut perlu mengintegrasikan pendidikan nilai, pelatihan berbasis kompetensi, praktik lapangan, pendampingan, evaluasi, serta regenerasi kepemimpinan.

Ramanda Bahrudin juga menekankan pentingnya standardisasi nasional pendidikan dan pelatihan kader, yang meliputi kurikulum, kompetensi pelatih, kualifikasi peserta, sistem penilaian, pengakuan kompetensi, dan penjaminan mutu pelatihan.

Meskipun demikian, standardisasi tersebut diharapkan tetap memberikan ruang bagi kreativitas serta penyesuaian program dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing wilayah.

Selain itu, ia mengusulkan pengembangan basis data kader HW Dewasa yang terintegrasi secara nasional. Data tersebut diperlukan untuk memetakan ketersediaan dan kebutuhan pembina, pelatih, instruktur, serta calon pimpinan di berbagai tingkatan organisasi.

Dengan adanya basis data yang baik, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan diharapkan benar-benar berdasarkan kebutuhan organisasi, bukan sekadar menjalankan rutinitas program.

Ramanda Bahrudin AR turut menyoroti pentingnya pemerataan kesempatan mengikuti kaderisasi, pendampingan setelah pelatihan, dukungan pendanaan, serta evaluasi terhadap penerapan kompetensi kader di tingkat qabilah dan kwartir.

Ia berharap kader yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan tidak berhenti pada penerimaan sertifikat, tetapi mampu menunjukkan kontribusi nyata dalam meningkatkan mutu pembinaan, memperkuat organisasi, memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan menjaga keberlanjutan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

“Kaderisasi HW dewasa harus menjadi investasi strategis gerakan untuk melahirkan kader yang berkarakter, kompeten, adaptif, berintegritas, dan siap memimpin Hizbul Wathan di masa depan,” demikian pokok pemikiran yang disampaikan dalam forum tersebut.

Sementara itu, Ramanda Hamdan Juwaini, S.Psi., M.Pd., selaku Ketua Kwarwil GKHW Kalimantan Selatan, mengikuti Komisi II Bidang Program.

Dalam pembahasan komisi tersebut, ia menyampaikan sejumlah masukan terkait pengembangan program Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, khususnya yang berhubungan dengan digitalisasi dan penguatan kegiatan kepanduan.

Salah satu perhatian yang disampaikan adalah pentingnya pengembangan digitalisasi kegiatan kepanduan, termasuk digitalisasi yang berkaitan dengan kegiatan dan administrasi organisasi, agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih efektif, tertata, dan mudah diakses.

Selain itu, Hamdan juga menyampaikan masukan mengenai penyelenggaraan perkemahan bagi Pandu Penghela dan Pandu Penuntun.

Kegiatan perkemahan tersebut dipandang penting sebagai sarana pendidikan karakter, pembentukan kemandirian, pengembangan kepemimpinan, peningkatan keterampilan kepanduan, serta penguatan persaudaraan antar pandu.

Melalui pembahasan di Komisi II, diharapkan program-program GKHW ke depan dapat disusun secara lebih terarah, sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi serta dinamika pendidikan generasi muda.

Adapun Ramanda Agus Syukron, M.Pd., selaku Sekretaris Kwarwil GKHW Kalimantan Selatan, mengikuti Komisi I Bidang Organisasi. Dalam forum tersebut, ia menyampaikan sejumlah masukan yang berfokus pada penguatan kelembagaan, penyempurnaan pedoman organisasi, serta revitalisasi tata kelola Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah perlunya revitalisasi tata kelola organisasi berbasis digital. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan efektivitas administrasi, memperkuat koordinasi, mempercepat penyampaian informasi, serta mendukung tertib organisasi di seluruh tingkatan kwartir.

Selain itu, Agus Syukron menyampaikan pentingnya penyusunan dan penyempurnaan pedoman kepanduan, antara lain:

  1. Pedoman Pandu Penuntun dan Pandu Tunas Athfal, sebagai acuan pembinaan yang lebih terarah sesuai karakteristik dan jenjang kepanduan.
  2. Penguatan dan konsolidasi organisasi di semua tingkatan, guna meningkatkan koordinasi, menyamakan arah gerakan, dan memperkuat pelaksanaan program.
  3. Penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk mendukung pengembangan pendidikan kepanduan dan memperluas sinergi kelembagaan.
  4. Penyempurnaan panduan tanda kehormatan, agar pemberian penghargaan dalam organisasi memiliki pedoman yang jelas dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  5. Penyusunan panduan bagi Pandu Kehormatan atau Pandu Senior/Tua/Werdha, sebagai bentuk perhatian terhadap peran, pengalaman, dan kontribusi anggota senior dalam keberlanjutan gerakan.

Menurut pokok masukan tersebut, penguatan organisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pembenahan struktur, tetapi juga harus disertai penyempurnaan pedoman, peningkatan koordinasi, pemanfaatan teknologi digital, serta pelibatan berbagai unsur yang dapat mendukung kemajuan Hizbul Wathan.

Dengan demikian, organisasi diharapkan semakin tertib, solid, dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal dari tingkat pusat hingga wilayah dan kwartir di bawahnya.

Berbagai masukan yang disampaikan oleh utusan Kwarwil GKHW Kalimantan Selatan dalam rapat komisi Tanwir I GKHW menunjukkan perhatian terhadap tiga aspek utama pengembangan organisasi, yaitu pembenahan tata kelola, penguatan program kepanduan, dan peningkatan kualitas kaderisasi.

Ketiganya merupakan bagian yang saling berkaitan. Organisasi yang kuat membutuhkan tata kelola yang baik. Program yang berkualitas membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan yang terarah. Sementara itu, keberlanjutan gerakan membutuhkan kader yang berintegritas, memiliki kompetensi, dan siap mengemban tanggung jawab kepemimpinan.

Oleh sebab itu, hasil pembahasan komisi diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan rekomendasi Tanwir I GKHW serta arah kebijakan Kwartir Pusat pada masa mendatang.

Kwarwil GKHW Kalimantan Selatan berharap setiap masukan yang disampaikan dalam forum tersebut dapat dikaji secara konstruktif dan ditindaklanjuti sesuai mekanisme organisasi, sehingga menghasilkan kebijakan yang berdampak nyata bagi pengembangan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di seluruh Indonesia.

Tanwir sebagai Momentum Pembaruan Gerakan

Tanwir I GKHW Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan yang semakin maju, modern, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam serta ideologi Muhammadiyah.

Partisipasi aktif utusan Kwarwil GKHW Kalimantan Selatan dalam rapat komisi merupakan bentuk kontribusi pemikiran daerah bagi pengembangan gerakan di tingkat nasional.

Harapannya, berbagai gagasan yang disampaikan tidak hanya berhenti sebagai bahan diskusi, tetapi dapat menjadi bagian dari rekomendasi dan kebijakan yang mendorong perbaikan organisasi, pengembangan program, serta pembentukan kader yang berkualitas.

Dengan semangat musyawarah, kolaborasi, dan pembaruan, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan diharapkan semakin kokoh dalam membentuk generasi Muslim yang berakhlak mulia, mandiri, terampil, berjiwa kepemimpinan, dan siap memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.

Posting Komentar untuk "UTUSAN KWARWIL GKHW KALIMANTAN SELATAN SAMPAIKAN SEJUMLAH MASUKAN STRATEGIS DALAM RAPAT KOMISI TANWIR I GKHW 2026"